Buah Pepaya, Buah Seribu Manfaat !

Di zaman yang serba instan ini segala hal dapat didapatkan dengan cepat dan mudah. Sebut saja mie instant, apabila dulu orang harus membuat adonan epung untuk bisa menyantap semangkuk mie hangat, kini hanya dalam waktu 3 menit kita bisa merasakan kelezatan mie instant.

Sejalan dengan semakin besarnya kebutuhan masyarakat akan hal instant khususnya makanan membuat parasit-parasit sumber penyakit pun semakin “instant” hinggap di tubuh kita. namun tidak perlu khawatir akan terjangkit penyakit, karena sebenarnya kita dapat menangkal para parasit tersebut dengan mudah, yaitu dengan mengkonsumsi buah pepaya.

penasaran dengan kandungan nutrisi dari si buah tropis ini ? mari kita lihat dibawah ini :

Tips-Atasi-Jerawat-Dengan-Buah-Pepayasumber : pedulisehat.info

Kandungan Nutrisi Buah Pepaya

Vitamin A (1.750 IU)                              Zat Besi (0.3 mg)

Vitamin B ( 0.03 mg)                              Fosfor (16 mg)
Riboflavin (0.04 mg)                              Kalium (470 mg)
Niacin (0.3 mg)                                       Lemak (0.1 gr)
Vitamin C (56 mg)                                  Karbohidrat (10 gr)
Kalsium (20 mg)                                     Protein (0.6 gr)
Kalori (39)

Dari banyaknya kandungan nutrisi yang ada di dalam buah pepaya, berikut adalah 4 khasiat buah pepaya bagi kesehatan kita.

1. Menjaga Pencernaan dan Pola DIET

Buah papaya sangat terkenal dengan manfaat buahnya yang dapat menjaga sistem pencernaan dan memperlancar masalah buang air besar yang bermasalah. Hal ini dikarenakan adanya Enzim Papain yang terkandung didalamnya. Zat papain juga berfungsi sebagai zat yang dapat membantu pada proses diet, selain dapat menjaga sistem pencernaan saat melakukan diet, papaya merupakan buah yang mengandung kalori rendah dan sifat dari buah yang sangat mengenyangkan. Jadi jika anda sendang melakukan diet maka patut anda coba untuk mengonsumsi buah papaya. Memiliki kandungan serat dan daging buah yang tebal didalamnya menjadikan anda merasa kenyang cukup mengonsumsinya dalam jumlah beberapa potong saja.

2. Menjaga Kesehatan Mata

Papaya juga mengandung vitamin A yang dapat juga bermanfaat untuk menjaga kesehatan mata.

3. Meningkatkan Metabolisme Dalam Tubuh

Vitamin C yang terkandung didalamnya dapat berfungsi meningkatkan metabolism dalam tubuh

4. Tidak Memiliki Efek Samping Saat Mengonsumsi

Jika anda merasa bosan dengan rasa buah papaya tanpa olahan yang menarik disini juga akan membahas tentang beberapa cara mengolah olahan buah papaya menjadi sajian yang nikmat, menarik dan tidak membosankan.

dan tahukah kamu? ternyata buah pepaya merupakan salah satu kata yang banyak dicari di mesin pencari Google lho! Nah berikut adalah tangkapan layar data yang penulis peroleh dari Google Keyword Planner.

xl pepaya

ad

Itu tadi informasi mengenai kekayaan manfaat yang dimiliki oleh buah pepaya yang banyak tumbuh ditanah pasundan kita. Semoga informasi kali ini memberikan manfaat bagi pembaca setia tanah pasundan. sampai jumpa dipostingan selanjutnya !

 

Advertisements

6 Makanan Sunda Yang Bikin Lidah Bergoyang!

Soal kuliner, tiap daerah di Nusantara punya daya tarik masing-masing. Tak terkecuali dengan daerah Jawa Barat. Ada begitu banyak sajian kuliner khas Sunda yang bikin lidah bergelora.

Meski makanan Sunda berikut ini bisa ditemui di banyak tempat, jangan sampai terlewat untuk menikmati kuliner otentiknya saat kamu main ke Tanah Priangan. Apa saja sih makanan khas Jawa Barat ini? Intip bareng-bareng, yuk!

1. Karedok

Via: resepmasakanindonesianew.blogspot.co.id

Siapa yang tidak mengenal karedok? Makanan khas Sunda satu ini terbuat dari aneka sayuran mentah seperti kol, tauge, kacang panjang, mentimun, terong, dan daun kemangi serta ditambah lontong. Campuran ini lantas disiram dengan bumbu kacang. Ada pula karedok leunca yang menggunakan leunca atau ranti sebagai bahan utamanya.

2. Ayam Bakakak

Via: kedaifatimah.com

Ini bukan ayam ketawa, melainkan sajian ayam bakar tradisional Sunda. Dalam bahasa setempat, masakan ini dikenal dengan bakakak hayam. Sajian ini berupa ayam kampung yang dibumbui dan dipanggang secara utuh setelah disisihkan jeroannya.

Biar makin sedap, masakan ini wajib disantap bersama sambal dan lalapan. Bisakah kamu menghabiskan satu ekor ayam bakakak sendirian?

3. Nasi Timbel

Via: qraved.co

Kalau kamu bosan makan nasi putih biasa, cobalah nasi timbel yang berasal dari Bandung ini. Nasi timbel adalah nasi putih yang dibungkus dengan daun pisang dan ditekan-tekan hingga padat sebelum dikukus sampai hangat. Lewat cara ini, aroma daun pisang yang khas pun menyatu dengan nasi putih, menciptakan cita rasa yang spesial.

Dengan nasi timbel, menikmati aneka lauk-pauk seperti ayam, bebek, tahu tempe, dan sayur asem pun jadi tambah mantap. Pada perkembangannya, nasi timbel inilah yang mengilhami terciptanya nasi bakar.

4. Gepuk

Via: kuliner.panduanwisata.id

Bagi penggemar masakan daging sapi, sudahkah kamu mencoba gepuk alias empal asli Jawa Barat ini? Sajian ini memadukan cita rasa manis dan gurih yang berasal dari sejumlah bumbu dan santan serta proses pengolahan yang nggak biasa.

Tekstur gepuk terkenal empuk karena dagingnya direbus dan di-gepuk alias dipukul-pukul. Cara pengolahan dengan dipukul-pukul inilah yang menjadi salah satu keistimewaan dari gepuk.

5. Sate Maranggi

Via: ceritamakan.com

Masakan sate nggak didominasi Madura dan Padang saja. Nyatanya, urang Sunda punya sate khasnya, yaitu sate Maranggi yang asli Purwakarta dan bisa kamu temui hingga Cianjur. Daging yang digunakan sebagai bahan sate memang masih umum, yaitu daging kambing atau sapi.

Tapi, yang bikin unik adalah proses marinasi sebelum daging dibakar, sehingga rasanya lebih meresap meski tanpa saus pendamping. Selain dinikmati bersama nasi putih atau lontong, sate Maranggi juga lezat disantap bareng nasi timbel. Sambal oncom irisan tomat segar juga tak boleh absen saat kamu menyantap hidangan ini.

6. Geco

Foto: Hendi Jo via historia.id

Orang Cianjur tentu sudah nggak asing lagi dengan sajian kuliner yang satu ini. Geco merupakan akronim dari tauge tauco. Seperti namanya, makanan ini memang berbahan dasar tauge yang disiram dengan bumbu tauco, bumbu khas Cianjur yang terbuat dari fermentasi biji kedelai.

Hidangan ini digenapi dengan irisan ketupat, kentang, tahu, dan telur. Tak ketinggalan, cuka lahang yang terbuat dari nira juga menjadi teman setia makanan ini.

Nah, apakah kamu tertarik mencicipi sajian kuliner asli Sunda ini?

Sumber:

  • Wikipedia.org
  • cookpad.com
  • biftah.com

Jaipongan di Mata Jawa Barat

Jaipongan adalah salah satu kesenian masyarakat sunda di Jawa Barat. Ciri khas kesenian ini adalah dari penarinya, kata Jaipong sendiri diambil dari gaya tari sang sinden, yaitu tari Jaipong. Sinden menari diatas panggung dengan menggunakan pakaian kebaya sebagai ciri khas pakaian adat Jawa Barat. Tarian “sinden” (baca: artis) jaipong, tidak seperti tarian penyanyi dangdut, yang kadang kala tariannya di isi dengan goyangan “ekstrem”. Disamping tarian, karena jaipong seni musik urang sunda, maka dalam menyanyikan lagunya dilantunkan dengan menggunakan bahasa sunda. Juga alat musik jaipong pun masih bersifat tradisional sepertii kendang, rebab, calung, gong, kenongan, kecrek, dan lain sebagainya.
Dulu, kesenian ini sangat populer dikalangan masyaraat Jawa Barat. Pasalnya, kesenian ini sangat digemari oleh masyarakat kerajaan yang berada di daerah Jawa barat, khususnya di daerah sunda. Bukti tentang kepopuleran jaipongan bisa kita saksikan dari film-film yang bertemakan kerajaan Sunda yang berada di Jawa Barat. Jika kerajaan mengadakan pesta, baik itu syukuran atau pesta pernikahan, jaiponganlah yang akan menghibur raja dan rakyatnya. Disamping itu, pakaian kebaya, ciri khas pakaian jawa Barat adalah pakaian yang selalu dikenakan oleh para sinden (Baca: penyanyi Jaipong).
Kesenian Jaipong sampai sekarang masih bisa kita saksikan pada daerah-daerah yang ada di Jawa Bara kendati sudah agak menurun. Misalnya, Bandung, Sumedang, Indramayu daerah sundanya. Cikarang, Karawang, Subang, dan daerah lainnya. Pergelaran seni Jaipong Pada daerah tersebut, biasanya selalu digelar apabila ada acara walimatunikah (pesta pernikahan), khitanan (Sudatan anak laki-laki atau perempuan), atau pesta lainya seperti peringatan hari kemerdekaan dan lain sebagainya.
Beralih pandangan
Menghadapai era modern, nampaknya kesenian khas Jawa Barat ini menghadapi tantangan kultur yang sulit di hindari. Tentunya kultur atau budaya tersebut masih bertemakan seni suara atau tari. Budaya seni itu tiada lain, dangdut sebagai ciri khas musik nasional dan band sebagai “international music”. Persaingan dengan kedua musik itu saja, masyarakat telah banyak beralih pendangan dan turun minatnya menggemari Jaipong.
Pasalnya, musik dangdut dan band lebih “keren” dan sesuai dengan “trand” era modern. Dibandingkan jaipongan yang konon menurut penggemar band dan dangdut adalah seni musik yang “kolot” atau kuno. Di katakan kolot atau kuno, karena jaipong memang budaya klasik masyarakat Jawa Barat yang telah lama lahir, disamping itu, para penggemar Jaipong kebanyakan dari kalangan orang tua. Sehingga bagi anak muda, sulit menerima seni ini sebagai idolanya, maka tak heran mereka beralih pandangan.
Daya tarik musik dangdut dan band sangat kuat “menyedot” masyarakat Jawa Barat. Bukan hanya anak muda, bahkan hampir semua lapisan masyarakat menggemari seni musik itu. Jika hal ini terus dibiarkan, lama-kelamaan minat masyarakat terhadap budaya lokal akan tenggelam. Dan nasib jaipongan pun akan terancam “mengerucut” peminatnya.
Mulai meninggalkannya daya gemar masyarakt terhadap jaipong bukan saja dipengaruhi oleh dangdut dan band. Melainkan ada hal lain yang cukup menantang kepopuleran seni jaipong ini, yakni pandangan para agamawan terutama para ulama Islam.
Pandangan masyarakat agamis
Disamping jaipongan tergerus kultur seni musik dangdut dan band. Pandangan masyarakat tentang Jaiopongan pun beragam. Seperti halnya pandangan Islam, ketidak populeran Jaipongan di masyarakat Islam Jawa Barat tiada lain ada beberapa hal unsur budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Misalnya, Islam memandang bahwa seorang wanita wajib menutup auratnya—memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan—sedangkan sinden tidak berkerudung. Bahkan, pakaian kebaya pun masih bisa menimbulkan “hasyrat seksual”, karena ada kalanya kebaya itu terlalu transparan dan ketat. Sehinga lekuk tubuh masih tergambar.
Pandangan Islam terhadap ketidak setujuannya terhadap seni Jaipong tidak berhenti pada pakaian saja, melainkan pada unsur tari nya pun dikritisi. Memang tarian jaipong tidak “seekstrem” dangdut dan band—punk hard rock, namun gerakan gemulai tariannya terkadang sama saja bisa membangunkan “hasyrat”. Kendati masih banyak alasan Islam terhadap jaipong yang secara tegas tidak “setuju”. Namun dari segi pakaian dan tari saja itu sudah menurunkan minat penggemar jaipong dikalangan umat Islam.
Benar halnya jika jaipong dikaitkan dengan unsur syariat Islam akan mudah dilupakan. Oleh karena itu, kesenian jaipong harus diteriakan oleh masyarakat Jawa Barat bahwa itu adalah “budaya seni yang harus dilestarikan”. Kendati demikian, kritik Islam terhadap jaipong pun ada benarnya. Karena, yang namanya budaya masyarakat Jawa Barat harus mempunyai kearifan lokal. Jangan hanya hiburan semata, namun mempunyai unsur pembangunan dan cerminan masyarakat yang mempunyai etis-moral.***

10 Permainan Tradisional Sunda yang Hampir Punah

10 Permainan Khas Sunda Yang hampir Punah

1. SORODOT GAPLOK

KEKAYAAN ragam permainan asli nusantara emang gak ada duanya. Selain jumlahnya yang sangat banyak, permainan asli nusantara juga dikenal memiliki unsur-unsur edukasi yang sangat positif. Salah satu permainan itu adalah Sorodot Gaplok.

Permainan yang menggunakan batu sebagai alat permainannya ini adalah permainan tradisional khas Jawa Barat, dimana biasanya dimainkan oleh anak laki-laki saja. Sorodot Gaplok berasal dari dua kata, Sorodot yang berarti ‘meluncur’ dan Gaplok yang berarti ‘tamparan’. Jadi Sorodot Gaplok adalah permainan meluncurkan batu ke batu lainnya yang nantinya bisa menimbulkan suara ‘plok’ seperti suara tamparan.

Permainan ini bisa dimainkan oleh dua orang atau lebih, yang penting jumlahnya genap. Karena kalau lebih dari dua orang biasanya akan dibagi menjadi dua tim yang jumlah anggotanya sama. Setelah dibagi dua tim, kita harus menentukan tim mana yang main duluan dan tim mana yang kebagian jaga, biasanya dengan cara suit.

Setelah itu kita tinggal membuat garis di lantai atau tanah sebagai tempat meletakkan batu secara berdiri. Kemudian buat garis lagi untuk tempat lemparan batu bagi tim yang bermain. Jarak kedua garis itu biasanya sekitar 3-5 meter. Yang terakhir jangan lupa kita siapkan juga batu yang tidak terlalu berat dan kalau bisa agak gepeng dan bisa diberdirikan supaya memudahkan kita sewaktu membawanya di punggung kaki.

Setelah semua siap, tim yang bermain lebih dulu akan berjajar di garis lempar. Secara bergiliran setiap anggota tim akan melemparkan batu yang diletakkan di atas punggung kaki mereka ke arah batu lawan yang sebelumnya diletakkan secara berdiri. Melemparnya juga tidak sembarang melempar, kita harus mendekati garis lempar dengan cara ‘engklek’ terlebih dulu sebelum nantinya ‘menyorodotkan’ batu itu.

Jika si pelempar tidak mengenai batu lawan, dia harus melempar batu itu lagi dari tempat batu itu jatuh. Tapi kali ini dia harus melempar melalui kedua kolong kaki dengan tangan. Jadi dia harus jongkok dan melemparkan batu itu melewati kolong kakinya. Tim pelempar harus menjatuhkan semua batu lawannya untuk menjadi pemenang karena kalau tidak tim mereka akan giliran menjadi tim penjaga.

Seperti disebut di awal tadi, permainan Sorodot Gaplok ini memiliki unsur edukasi yang sangat kuat. Karena ternyata permainan ini bisa melatih kerjasama tim, meningkatkan jiwa sportifitas dan juga bisa melatih konsentrasi seseorang. Selain itu permainan ini juga bisa melatih kepemimpinan serta ketangkasan seseorang loh Sobat Djadoel. So, Ayo Bermain Sorodot Gaplok lagi sekaligus bernostalgia!

2. ENGKLEK

SEKARANG ini banyak sekali permainan modern yang bisa kita mainkan, mulai dari game di tablet sampai berbagai video game di komputer, baik yang online maupun offline. Dibalik menjamurnya permainan modern saat ini, ternyata masih ada beberapa permainan tradisonal yang banyak dimainkan oleh anaka-anak zaman sekarang, terutama anak-anak di pelosok desa. Salah satu permainan tradisional tersebut adalah engklek.

Engklek adalah permainan tradisional yang sangat populer di Indonesia, banyak anak-anak yang memainkannya. Saking populernya, banyak orang Indonesia yang menganggap engklek sebagai permainan khas tradisonal Indonesia. Padahal sebenarnya engklek ini berasal dari negeri Pizza, Italia, tepatnya dari Kota Roma.

Di Roma sendiri permainan ini disebut dengan Hopscotch yang berasal dari kata Hop (melompat) dan scotch (garis-garis), karena memang cara bermainnya adalah dengan melompat diantara berbagai garis yang digambar di tanah. Awalnya permainan ini digunakan untuk melatih kekuatan, kecepatan dan stamina para prajurit Roma dalam upaya penjajahan di Glasgow, Skotlandia. Saat itu arenanya sendiri dibuat dengan ukuran yang sangat besar, 31 meter.

Setelah Glasgow jatuh ke tangan Roma, para tentara Roma kemudian mengajarkan berbagai gaya hidup orang Roma termasuk mengajarkan anak-anak Glasgow untuk bermain Hopscotch. Permainan ini kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai penjuru dunia dan menjadi permainan yang sangat populer di kalangan anak-anak Amerika, Asia dan Eropa.

Nama engklek atau sondah juga diduga berasal dari kata zondag-maandag. Kata itu berasal dari Belanda yang kemudian menyebar ke nusantara pada zaman kolonial. Pada zaman penjajahan, kerap dijumpai anak-anak perempuan Belanda yang bermain sondah. Hingga setelah Indonesia merdeka dari penjajahan, permainan tradisional ini tetap bertahan dan menjadi semakin populer di kalangan anak-anak kecil di Indonesia.

Oleh karena itu, di Indonesia sendiri permainan ini bisa kita jumpai mulai dari Sabang sampai Merauke. Namanya juga berbeda-beda di setiap tempatnya, di Jawa permainan ini disebut engklek, di sebagian Jawa Barat ada yang menyebutnya sondah, orang Palembang menyebutnya cak engkle, di Manado disebut enge-enge, dan masih banyak lagi sebutannya.

3. PEREPET JENGKOL

Perepet jengkol jajahean

Kadempet kohkol jejeretean

Eh jaja eh jaja eh jaja eh jaja

Bagi sebagian masyarakat Sunda lagu di atas sudah tidak asing lagi di telinga mereka, tapi bagi masyarakat lainnya belum tentu tahu sebenarnya itu lagu apa sih? Djamandoeloe.com kali ini akan mengulas sedikit tentang permainan jaman dulu di daerah Sunda, ya salah satunya adalah permainan perepet jengkol seperti lagu di atas. Sobat Djadoel pasti tahu kan jengkol itu apa? Hehe… Itu loh makanan yang wanginya semerbak ^^

Meski nama permainannya adalah perepet jengkol tapi sebenarnya dalam permainan tersebut sama sekali tidak melibatkan jengkol. Setelah djamandoeloe.com cari tahu sana sini tidak ada yang tahu kenapa permainan ini dinamakan perepet jengkol, yang pasti permainan ini sudah ada sejak dulu. Malah konon katanya pada zaman dulu permainan ini biasanya dimainkan ketika malam terang bulan. Jadi, waktu dulu saat terang bulan seperti itu anak-anak kampung akan keluar rumah untuk bermain di halaman.

Perepet jengkol ini dilakukan sedikitnya oleh tiga orang, namun akan semakin ramai kalau dimainkan oleh lebih dari tiga orang. Cara bermainnya seperti ini:

1. Para pemainnya berdiri sambil membelakangi temannya masing-masing kemudian para pemainnya saling berpegangan tangan atau merangkul juga boleh asal saling mengikat saja.

2. Setelah itu, salah satu kaki setiap pemainnya diangkat kemudian dikaitkan dengan kaki pemain lainnya yang diangkat juga, kaki mereka tersebut dianyamkan hingga kuat. Jadi, kaki pemain yang satu dengan pemain yang lainnya saling terkait.

3. Kalau pertahanan kakinya sudah kuat, masing-masing pemain harus menjaga keseimbangganya agar tidak terjatuh dan satu per satu mulai melepaskan tangannya.

4. Jika sudah seperti itu, semua pemain meloncat-loncat bergerak berputar ke arah kanan atau kiri tergantung kesepakatan bersama. Sambil berputar semuanya melantunkan lagu yang ada di atas sambil bertepuk tangan.

5. Semakin lama putarannya akan semakin cepat hingga akhirnya keseimbangan para pemain tidak dapat dipertahankan lagi dan semuanya berjatuhan.

Tidak ada pihak yang dinyatakan menang atau kalah dalam permainan ini karena permainan ini hanya dimainkan untuk bersenang-senang. Meski begitu, permainan perepet jengkol memberikan sebuah pelajaran bagi kita, yakni mengajarkan kita untuk bisa bekerja sama dengan yang orang lain. Di saat kita bisa saling bekerja sama serta mendengarkan petunjuk satu sama lain maka keseimbangan itu pun akan terjaga dengan baik. Namun, di saat kita sudah lemah dan tidak lagi bisa diajak kerja sama, jatuhlah semuanya. Kurang lebih seperti itulah permainan tradisional daerah Sunda ini. Permainan zaman dulu itu tidak sembarang permainan tetapi selalu ada makna dibalik semuanya.

4. CING CIRIPIT

SEBELUM permainan dimulai, biasanya ada peraturan yang harus dilakukan terlebih dahulu. Misalnya, penentuan tim atau hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama permainan.

Seperti dalam bermain sepak bola, biasanya wasit akan melakukan tos dengan menggunakan koin untuk menentukan siapa yang berhak memilih bola atau tempat bagi yang menang. Nah, ternyata di tatar Sunda juga ada salah satu cara untuk memulai suatu permainan, namanya Cing ciripit.

Cing ciripit atau di sebagian daerah lainnya disebut emeng-emengan adalah sebuah judul lagu yang biasa dinyanyikan sebelum kita memulai permainan/ucing-ucingan. Lagu ini bisa kita pakai untuk mengiringi ritual menentukan orang yang nantinya akan jadi “kucing”.

Aturan mainnya pun sangat gampang, pertama biasanya anak-anak akan berkumpul membentuk lingkaran. Kemudian satu orang akan membuka telapak tangannya seperti kita sedang meminta sesuatu. Biasanya orang ini yang umurnya lebih tua atau yang punya jiwa kepemimpinan yang lebih.

Setelah itu anak-anak yang lain harus menempatkan satu jari telunjuknya di atas telapak tangan tadi. Setelah semua anak-anak menempatkan telunjuknya, mereka akan akan bernyanyi cing ciripit seperti di bawah ini.

Cing ciripit

Tulang bajing kacapit

Kacapit ku bulu paré

Bulu paré seuseukeutna

Jol, pa dalang mawa wayang, Jékjéknong!

Kalau lagu di atas diterjemahkan ke bahasa Indonesia kurang lebih seperti ini:

Cing ciripit

Tulang tupai kejepit,

Kejepit oleh bulu padi,

Bulu padi yang bagian tajam,

Jol, pak dalang bawa wayang, Jékjéknong !

Setelah lagu berakhir tepatnya saat kata Jejeknong, semua peserta harus siap-siap menarik jari telunjuknya, karena kalau jarinya bisa ditangkap oleh telapak tangan, nanti kita akan jadi “kucing” nya.

Sangat sederhana memang, tapi selain sebagai alat menentukan siapa yang jadi “kucing”, cing ciripit juga bisa menjadikan suasana lebih cair dengan gelak tawa dan nyanyian sebelum nantinya kita serius pada suatu permainan. Kadang juga cing ciripit ini berdiri sendiri sebagai sebuah permainan. Masih ada enggak ya anak zaman sekarang yang memainkan cing ciripit? Mungkin Sobat Djadoel dari generasi dulu masih pada ingat lagu cing ciripit. Selamat bernostalgia

5. ENCRAK

Permainan Tradisional Encrak ini dilakukan oleh dua hingga empat orang anak wanita dengan menggunakan kerikil atau biji-bijian, dari kerikil tsb. diambil salah satu buah sebagai kokojo, permainan dilakukan dengan cara membalikkan telapak tangan yang mewadahi kerikil, sehingga tertumpah, dan diupayakan tertahan oleh punggung tangan kemudian kokojo tsb dilempar keatas dan ditangkap kembali, pada saat kokojo ada diudara kerikil yang berserakan diambil satu persatu atau lebih, pergantian pemain dilakukan apabila kerikil tsb tidak dapat di tangkap.

Permainan anak tradisional ini sudah sangat jarang sekali dimainkan saat ini.

6. UCING GALAH / GALSIN

sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 – 5 orang. Dan cara permainan ini sangat sederhana pula. Caranya menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik—dalam area lapangan yang telah ditentukan. Mudah tapi sulit bila saat melakukannya. Perlu ketangkasan dan kecermatan agar tidak tertangkap oleh lawan.

Permainan ini sangat mudah dimainkan dan ditemukan lho? Permainan ini juga tidak perlu butuh tempat atau dibuat kembali. Jika ada lapangan bulu tangkis (badminton) permainan pun sudah bisa dimainkan dua group! Dan patokannya adalah acuan garis-garis yang ada. Nggak terlalu ribet digunakan bukan? Hanya cukup menggunakan lapangan bulutangkis.

Dan cara permainnya seperti ini;

Permainan galasin ini terbagi dua group. Grup pertama—yang menjaga garis batas horizontal dan garis batas vertikal. Mungkin Anda akan tahu dan hafal jika Anda sering melihat lapangan bulutangkis. Seperti itulah ukurannya permainan ini!

Lalu dilanjut anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang). Maka orang ini mempunyai jalan untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan.

Permainan ini memang sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.

Lain di kampung saya lain pula di Makasar. Jika kota angin mamiri ini disebutnya main asing. Seorang pemain bertindak sebagai peluncur (kapten). Halnya sama deengan permainan galasin! Permainan ini seru untuk melatih ketangkasan, strategi, kecepatan, dan kecerdikan pula.

Sungguh sangat indah jika merunuti kenangan-kenangan masa kecil saya kala itu. Apalagi jika mengingat saya bermain galasin. Saya sering kali tertangkap oleh lawan. Karena saya lebih banyak bengongnya.Hehe. Hingga group saya kalah akhirnya namun mengesankan.

7. PERANG GOBANG

Perang gobang adalah…mengikuti seperti Zoro…gobang dalam bahasa sunda berarti pedang…gobang yang di pakai adalah terbuat dari bambu yang di raut dan menyerupai buat bermain anggar…permainan ini di bagi dua kelompok…dan saling beradu seperti anggar..dan yang kalah ya adalah jika kaki telah terkena gobang…permainan ini lumayan aga berbahaya…karena kaki kita jika kalah terpukul oleh bambu…dan sakit….


8. KOBAK


Kobak atau logak yaitu lubang kecil yang dangkal.
Perlengkapan alat yang digunakan dalam permainan ini beberapa gundu dan lobang kecil yang dangkal sebagai sasaran untuk mencapai kemenangan.
Dilakukan oleh anak-anak atau remaja laki-laki antara 2 sampai 5 orang dan bermain perorangan. Tempat bermain di ruang terbuka yang cukup luas.
Permainan ini suka memakai taruhan uang atau karet gelang. Permainan ini di samping sebagai hiburan juga melatih kecermatan dan ketangkasan melempar. Permainan ini terdapat Kabupaten Bandung, Garut, Cianjur, Bogor dan sekitarnya.

permainan ini dahulu sering di lakukan pada saat bulan puasa…sambil ngabuburit…nunggu adzan magrib.walau pun sebenarnya adalah permaina judi…dan kami harap semoga tulisan ini jangan di jadikan infirasi..tapi hanya untuk mengenang masa lalu…..


9. CONGKLAK


Permainan ini umumnya digemari kaum wanita tua, muda dan anak-anak, dilakukan dikala waktu senggang.
Alat yang diperlukan sebuah congkak terbuat dari kayu/plastik beserta 98 butir biji-bijian atau kewuk/lokan.
Permainan dilakukan oleh 2 orang dapat dilakukan di lantai atau di atas meja. Permainan congkak melatih keterampilan menghitung dan melatih tanggung jawab pada diri sendiri dan rasa setia kawan.

10. GATRIK


Gatrik atau Tak Kadal pada masanya pernah menjadi permainan yang populer diIndonesia. Merupakan permainan kelompok, terdiri dari dua kelompok.
Permainan ini menggunakan alat dari dua potongan bambu yang satu menyerupaitongkat berukuran kira kira 30 cm dan lainnya berukuran lebih kecil. Pertama potongan bambu yang kecil ditaruh di antara dua batu lalu dipukul oleh tongkat bambu, diteruskan dengan memukul bambu kecil tersebut sejauh mungkin, pemukul akan terus memukul hingga beberapa kali sampai suatu kali pukulannya tidak mengena/luput/meleset dari bambu kecil tersebut. Setelah gagal maka orang berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskan. Sampai giliran orang terakhir. Setelah selesai maka kelompok lawan akan memberi hadiah berupa gendongan dengan patokan jarak dari bambu kecil yang terakhir hingga ke batu awal permainan dimulai tadi. Makin jauh, maka makin enak digendong dan kelompok lawan akan makin lelah menggendong.

Sejarah Tari Topeng Cirebon

121915-sejarah-tari-topeng-cirebon3

Tari Topeng Cirebon ini adalah satu kesenian seni tari asli dari Cirebon termasuk juga dari daerah  Indramayu, Jatibarang, Losari dan Brebes, Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian di tatar Parahyangan, mengapa dinamakan tari topeng karena memang ketika beraksi sang penari memakai topeng.

Tari Topeng Cirebon, kini menjadi salah satu tarian yang sangat langka, karena Seni tari ini adalah warisan pada zaman Kerajaan Cirebon yang sering dipentaskan di kerajaan, Penari dan penabuh gamelan hidup berkecukupan karena ditanggung oleh Raja.

Namun raja-raja Cirebon  tak bisa terus menerus menghidupi kelompok kesenian karena kegiatan ekonominya diatur oleh pemerintah kolonial Belanda, sehingga saat itu para penari dan penabuh gamelan akhirnya mencari mata pencaharian dengan mbebarang  atau pentas keliling kampung.

Dahulu pada tahun 1980 an Seni tari Topeng ini sering di peragakan oleh sekelompok penari jalanan untuk mencari nafkah dan berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya di kota Cirebon.

Sejak itu, Tari Topeng Cirebon mulai dikenal di pedesaan. Grup-grup Tari Topeng Cirebon bermunculan dan beberapa grup tari topeng sibuk mbebarang  dari desa ke desa untuk memeriahkan hajatan. tapi entah mengapa saat ini sudah sangat jarang di peragakan oleh para grup tari keliling.

Sejarah Tari Topeng Cirebon

Konon pada awalnya, Tari Topeng Cirebon ini  diciptakan oleh sultan Cirebon yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang Curug Sewu.

Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.

Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya.

Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan.

Seiring dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang.

121915-sejarah-tari-topeng-cirebon2

Dalam tarian ini biasanya sang penari berganti topeng hingga tiga kali secara simultan, yaitu topeng warna putih, kemudian biru dan ditutup dengan topeng warna merah.

Uniknya, tiap warna topeng yang dikenakan, gamelan yang ditabuh pun semakin keras sebagai perlambang dari karakter tokoh yang diperankan. Tarian ini diawali dengan formasi membungkuk, formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda bahwa tarian akan dimulai.

Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada para penontonnya.

Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai.

Setelah berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng berwarna biru.

Proses serupa juga dilakukan ketika penari berganti topeng yang berwarna merah. Uniknya, seiring dengan pergantian topeng itu, alunan musik yang mengiringinya maupun gerakan sang penari juga semakin keras.

Puncak alunan musik paling keras terjadi ketika topeng warna merah dipakai para penari.

Setiap pergantian warna topeng itu menunjukan karakter tokoh yang dimainkan, misalnya warna putih. Warna ini melambangkan tokoh yang punya karakter lembut dan alim.

Sedangkan topeng warna biru, warna itu menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun. Kemudian yang terakhir, warna merah menggambarkan karakter yang berangasan (temperamental) dan tidak sabaran.

Busana yang dikenakan penari biasanya selalu memiliki unsur warna kuning, hijau dan merah yang terdiri dari toka-toka, apok, kebaya, sinjang dan ampreng.

121915-sejarah-tari-topeng-cirebon4

Sejarah Angklung

Angklung adalah jenis alat musik tradisional yang terbuat dari bambu yang bernada ganda  atau multitonal. Cara memainkan angklung adalah dengan digoyang, Seseorang tinggal memegang rangkanya pada salah satu tangan (biasanya tangan kiri) sehingga angklung tergantung bebas, sementara tangan lainnya (biasanya tangan kanan) menggoyangnya hingga berbunyi.

Angklung merupakan alat musik tradisional Jawa Barat yang sudah terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak bulan November 2010. Tidak hanya tercatatat oleh UNESCO, upaya pelestarian dan memperkenal angklung sebagai warisan Indonesia dilakukan dengan cara memainkan angklung secara bersama-sama dan mencatatkan sebagai rekor dunia. Diantaranya adalah pada tahun 2008 dengan pemecahan rekor pemain angklung sebanyak 11 ribu orang di Jakarta dan 5 ribu orang di Washington DC.
Kemudian pada tanggal 24 April 2015 lalu, tepatnya pada saat peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diselenggarakan di Jakarta – Bandung, sebanyak 20.704 orang bersama – sama memainkan angklung bertempat di Stadion Siliwangi Bandung. Aksi pemecahan rekor dunia dengan tajuk ‘Harmony Angklung For The World’ yang dilakukan oleh 20.704  orang tersebut diantaranya memainkan lagu-lagu seperti ‘Halo-Halo Bandung’, ‘I Will Survive’ dan ‘We Are The World‘. Yang tak kalah menarik dari pemecahan rekor ini adalah, dari total 20.704 orang pemain angklung, sebanyak 4.117 orang adalah anak berkebutuhan khusus (ABK) yang berasal dari berbagai Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berada di Jawa Barat yang terdiri dari siswa disabilitas tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa dan autis yang didampingi oleh 1.000 orang guru pembimbing. Wah…. begitu bangganya kita sebagai Warga Bandung khususnya dan Bangsa Indonesia umumnya dengan semangat masyarakat Bandung dalam memainkan Angklung sebagai alat musik tradisional.  Maka dari itu Sobat, sepatutnya adalah menjadi kewajiban kita generasi muda untuk melestarikan angklung sebagai kekayaan budaya Indonesia.

Sejarah dan Asal usul Angklung

Belum ada petunjuk pasti sejak kapan alat musik angklung ini ada, atau sejak kapan angklung dipergunakan oleh masyarakat Jawa Barat. Catatan mengenai alat musik angklung ini, baru muncul sekitar abad ke 12 sampai 16, merujuk pada adanya kerajaan Sunda.
Keberadaan angklung berkaitan dengan masyarakat kerjaan Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari tanaman padi (pare). Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan (adat) masyarakat Baduy yang dipercaya sebagai sisa-sisa kerajaan Sunda, dimana angklung dipergunakan sebagai ritual dalam melakukan penanaman padi. Angklung dibuat dan diciptakan untuk memikat Dewi Sri/Sri Pohaci (Lambang dewi padi) untuk turun kebumi agar tanaman padi rakyat bisa tumbuh subur.

Selain masyarakat Baduy di Banten, permainan angklung gubrag di Jasinga – Bogor, Jawa Barat adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya juga berawal dari ritus padi.

Pada tahun 1862, Jonathan Rigg menuliskan buku “Dictionary of the Sunda Language” yang diterbitkan di Batavia, menuliskan bahwa angklung adalah alat musik yang terbuat dari pipa-pipa bambu, yang dipotong ujung-ujungnya, menyerupai pipa-pipa dalam suatu organ, dan diikat bersama dalam suatu bingkai, digetarkan untuk menghasilkan bunyi.

Dalam perjalanan waktu, alat musik tradisional anglung berkembang dan menyebar keseluruh pelosok nusantara.

Jenis – Jenis Angklung

Saat ini, ada beberapa jenis-jenis angklung yang dikenal dan tercatat dalam kehidupan masyarakat, khsusunya di Jawa Barat dan dibeberapa daerah lain di Indonesia. Ada kala jenis angklung tersebut memang memiliki bentuk yang sedikit berbeda atau memiliki bentuk yang sama akan tetapi digunakan pada jenis seni / acara pertunjukan yang berbeda pula. Jenis-jenis angklung dan kesenian yang menggunakan alat musik tradisional angklung tersebut antara lain seperti dibawah ini :

1. Angklung Kanekes

Angklung Kanekes adalah angklung yang berasal dari daerah Kanekes (perkampungan orang baduy). Angklung jenis ini tidak semata-mata dipergunakan untuk hiburan semata, akan tetapi pada intinya dipergunakan sebagai ritual disaat menanam padi.
Dalam penggunaannya, angklung kanekes bisa dimainkan tanpa aturan (Sunda : Dikurulungkeun) maupun dengan menggunakan aturan ritmis tertentu. Pola penggunaan angklung yang dilakukan dengan “dikurulungkeun” biasanya dilakukan di daerah baduy dalam, sebaliknya yang menggunakan ritmis oleh baduy luar.

Yang berhak dan boleh membuat angklung adalah orang baduy dalam, selain itu hanya  hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membuatnya. Hal ini disebabkan oleh adanya syarat-syarat ritual dalam pembuatan angklung kanekes.

Angklung kenekes sendiri terdiri dari beberapa bentuk dari yang terbesar sampai yang kecil yaitu : indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Yang dapat membuat angklung kanekespun khusus orang Kajeroan, yaitu orang yang berasal dari Kampung Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Selain itu hanya orang-orang khusus saja yang bisa membuat angklung ini.

Angklung Kanekes

2. Angklung Reog

Angklung Reog merupakan alat musik untuk mengiringi tarian reog ponorogo di Jawa Timur. Angklung Reog ini memiliki kekhasan dari segi suara yang sangat keras, memiliki dua nada serta bentuk lengkungan rotan yang menarik dengan hiasan benang berumbai-rumbai warna yang indah.

Angklung Reog – Image : http://ruangkudisini.blogspot.com

3. Angklung Banyuwangi

Angklung banyuwangi ini memiliki bentuk seperi calung dengan nada budaya banyuwangi. Di Banyuwangi disebut dengan Caruk.

Angklung Banyuwangi / Caruk

4. Angklung Bali

Angklung bali memiliki bentuk dan nada yang khas bali. Bentuknyapun mirip dengan calung. Angklung jenis ini di Bali disebut dengan Rindik.

Angklung Bali / Rindik

5. Angklung Dogdog Lojor

Angklung dogdog lojor adalah angklung yang dipergunakan dalam kesenian adat dogdog lojor.
Kesenian dogdog lojor sendiri terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun.

Kesenian dogdog lojor sendiri diadakan setahun sekali, setelah panen raya  seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.
Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam barisan Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya.

Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.

Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.

Angklung Dogdog Lojor – Image : disparbud.jabarprov.go.id

6. Angklung Gubrag

Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).
Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.
Awalnya, angklung adalah alat musik yang tidak memiliki nada suara. Angklung kuno tidak memiliki irama dan hanya berbunyi “gubrak”. Lantaran itulah, dahulu kala, angklung yang tak memiliki nada disebut dengan angklung gubrak.
Angklung Gubrak merupakan perpaduan alat musik angklung yang terbuat dari bambu berukuran panjang mencapai sekitar 50 hingga 100 centimeter. Menurut sejarahnya, angklung gubrak yang konon telah ada di daerah Bogor sejak 400 tahun lalu ini selalu menjadi musik pengiring ketika menggelar acara panen padi. Mereka percaya, alunan nada yang berasal dari angklung tersebut, nantinya dapat membuat padi yang akan mereka tanam kembali dapat tumbuh dengan subur.

7. Angklung Badeng

Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musik yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu angklung badeng berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.
Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek.

8. Angklung Buncis

Angklung Buncis

Angklung Buncis adalah angklung yang dimainkan pada kesenian Buncis. Kesenian Buncis sendiri merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan yang berkembang di daerah Baros (Arjasari, Kabupaten Bandung). Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.
Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle…, dst. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.
Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet, kecrek, dan goong.
Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya: Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.

9. Angklung Badud

Angklung badud adalah angklung yang dipergunakan pada acara sunatan anak di daerah Kampung Parakanhonje, Kelurahan Sukamaju Kaler, Kecamatan Indihiang,  Kota Tasikmalaya serta beberapa daera lain di Priangan Timur.
Fungsi utama dari Seni Angklung Badud ini, dipergunakan untuk mengarak dan menghibur pengantin Sunat. Zaman dahulu ketika obat bius lokal penghilang rasa sakit (pangbaal) belum biasa digunakan, anak yang akan disunat pagi-pagi sekali diarak menuju ke kolam (balong) kemudian anak disuruh untuk berendam di kolam selama beberapa menit, nah pada saat diarak menuju kolam dan pulang dari kolam inilah Angklung Badud dimainkan, masyarakat pun ikut berbondong-bondong membentuk barisan berjejer, layaknya pawai atau karnaval, sehingga terjadilah kegembiraan dan diantara kegembiraan itu pula, biasanya muncul kreativitas dari pemain dan masyarakat membuat kelucuan dan kemeriahan lainnya. Acara ini pun digelar  sekaligus mengundang dan memberitahu masyarakat agar pada saatnya anak disunat bisa hadir memberikan do’a dan uang “panyecep” kepada pengantin sunat.

BADUD bisa diartikan Energik, atau Dinamis. Ini terlihat dari sifat dan karakter Seni ini, di mana nada-nada yang dihasilkan oleh hentakan Angklung, pukulan Dogdog, rancaknya penari, dan bergeloranya semangat penari Kuda Lumping yang bergoyang mengikuti irama musik, sungguh sangat nikmat, seolah mengajak kepada penonton dan pendengarnya  untuk ikut bergerak dan ngengklak mengikuti irama yang ritmis

10. Angklung Bungko

Angklung Bungko adalah kesenian daerah yang menggunakan alat musik angklung dan berasal dari Desa Bungko Kecamatan kapetakan Cirebon. Selain angklung alat kesenian tradisional Jawa Barat lain yang dipergunakan dalam kesenian Angklung Bungko adalah Gendang, tutukan, klenong dan gong. Angklung Bunglo awalnya adalah musik pengiring tarian perang antar warga desa pada masa awal islam masuk ke Desa Bunglo.

Angklung bungko diperkirakan lahir menjelang abad ke-17 setelah wafatnya Sunan Gunung Jati. Diduga, kesenian ini lahir secara kolektif. Tercipta atas dasar luapan emosi kegembiraan setelah mereka memenangkan perang (tawuran) melawan pasukan Pangeran Pekik (Ki Ageng Petakan). “Tawuran” sebagai akibat perbedaan pendapat mengenai prinsip-prinsip ajaran Islam yang diajarkan Sunan Gunung Jati. Karena itu gerakan-gerakan tari angklung bungko lebih merupakan dari penggambaran peperangan saat mereka mematahkan serangan Pangeran Pekik. Semua penarinya lelaki menggunakan ikat kepala  batik, baju putih, keris, kain batik, serta sodér. Tariannya sangat halus dan statis memberikan kesan tenang tapi raut muka menunjukan ketegangan, sedang tabuhannya kadang bergemuruh. Semuanya memberi kesan orang yang bersiap berangkat ke medan perang.
Ada empat tarian dalam angklung bungko, antara lain 1. Panji,menggambarkan sikap berzikir. 2. Benteleye, menggambarkan sikap bertindak dalam menghadapi rintangan di perjalanan. 3. Bebek ngoyor,menggambarkan jerih payah dalam upaya untuk mencapai tujuan. 4. Ayam alas, menggambarkan kelincahan dalam mencari sasaran pemilih.

11. Angklung Padaeng

Angklung padaeng adalah angklung yang dikenalkan oleh Daeng Soetigna sejak sekitar tahun 1938. Terobosan pada angklung padaeng adalah digunakannya laras nada Diatonik yang sesuai dengan sistem musik barat. Dengan demikian, angklung kini dapat memainkan lagu-lagu internasional, dan juga dapat bermain dalam Ensembel dengan alat musik internasional lainnya.

13. Angklung Sarinande

Angklung sarinande adalah istilah untuk angklung padaeng yang hanya memakai nada bulat saja (tanpa nada kromatis) dengan nada dasar C. Unit kecil angklung sarinade berisi 8 angklung (nada Do Rendah sampai Do Tinggi), sementara sarinade plus berisi 13 angklung (nada Sol Rendah hingga Mi Tinggi).

14. Angklung Toel

Angklung toel diciptakan oleh Kang Yayan Udjo sekitar tahun 2008. Pada alat ini, ada rangka setinggi pinggang dengan beberapa angklung dijejer dengan posisi terbalik dan diberi karet. Untuk memainkannya, seorang pemain cukup men-toel angklung tersebut, dan angklung akan bergetar beberapa saat karena adanya karet.

Sosok angklung toel ini terdiri dari sebuah rangka kayu yang mewadahi 30 angklung dari nada G3 – C6. Angklung dipasang berjejer dalam 2 sap. Sap bawah (dekat pemain) adalah nada-nada penuh (G, A, B, C, dst), sementara sap atas adalah nada-nada kromatis (G#, A#, C#, dst)

Kelebihan Angklung Toel adalah dapat dimainkan seorang diri, namun kelemahan adalah getaran angklung yang belum bisa lama serta hanya dapat memainkan dua nada saja.

Angklung Toel

15. Angklung Sri-Murni

Angklung ini merupakan gagasan Eko Mursito Budi yang khusus diciptakan untuk keperluan robot angklung.  Sesuai namanya, satu angklung ini memakai dua atau lebih tabung suara yang nadanya sama, sehingga akan menghasilkan nada murni (mono-tonal). Ini berbeda dengan angklung padaeng yang multi-tonal. Dengan ide sederhana ini, robot dengan mudah memainkan kombinasi beberapa angklung secara simultan untuk menirukan efek angklung melodi maupun angklung akompanimen.

Demikian Sobat tradisional, sejarah asal usul angklung dan jenis-jenis angklung. Semoga artikel yang singkat ini dapat bermanfaat bagi Sobat dan sebagai catatan bagi generasi penerus Bangsa Indonesia.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Angklung
http://news.liputan6.com/read/2219059/peringati-kaa-20704-pemain-angklung-pecahkan-rekor-dunia
http://www.disparbud.jabarprov.go.id
http://datasunda.org
http://klungbot.com/angklung-toel/